Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘interview with alva’ Category

SALAH satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga. Akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun (Istri -red) ikut bekerja. Bila pasangan (istri) Anda mulai asyik bekerja di luar rumah, sebaiknya Anda berhati-hati. Pasalnya, menurut hasil penelitian Universitas Chicago dalam masalah kesehatan, para suami ternyata lebih tergantung pada istri dibandingkan sebaliknya. Dari penelitian tersebut terungkap pula bahwa apabila istri bekerja lebih dari 40 jam seminggu, maka kemungkinan derajat kesehatan suami turun 25% dalam masa tiga tahun. Data tersebut diambil dari riset selama tiga tahun di University of Michigan terhadap 2.867 pria dan wanita menikah, tentang masalah kesehatan mereka. Wanita lebih besar kecenderungannya untuk mengingatkan pasangannya agar tidur cukup, berolah raga, ataupun minum obat. Peran tradisional dari perawatan kesehatan istri terhadap suami sepertinya masih tertanam kuat. Barangkali karena sejak dini wanita cenderung disosialisasikan dan dilatih untuk melakukan tugas-tugas wanita tradisional, menyangkut masalah kesehatan, emosi dan hubungan sosial. Sebaliknya, pria cenderung tidak terbiasa mengatur kesehatan ataupun emosi untuk siapapun, bahkan untuk diri mereka sendiri. Jika sang istri bekerja dengan jam kerja yang panjang sehingga mau tidak mau waktunya berkurang untuk urusan rumah tangga, maka masuk akal jika kesehatan sang suami pun ikut dipengaruhi. Kenyataan lain adalah bahwa jam kerja suami hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap kesehatan istri. Namun bagaimana bila sang suami yang tidak bekerja alias pengangguran? Ternyata lebih buruk lagi, hal ini akan berpengaruh negatif terhadap keduanya. Berbeda bila istri tidak bekerja, efeknya kecil atau bahkan tidak ada pengaruh terhadap istri maupun suami. Jadi, untuk kepentingan berdua, aturlah waktu kerja Anda dengan pasangan Anda. Semakin banyaknya pasangan yang sama-sama bekerja menarik perhatian universitas tersebut untuk mengkaji dampaknya, dan ternyata bahwa jam kerja istri yang panjang ikut mempengaruhi kesehatan suami. Studi-studi sebelumnya dari Universitas tersebut menyatakan bahwa pria beristri lebih sehat daripada pria yang masih lajang. Kemudian dikembangkan lebih jauh dengan studi baru, dan merupakan yang pertama mengkaji sejauh mana pengaruh jam kerja terhadap kesehatan pada pasangan-pasangan yang menikah. **

LANTAS bagaimana bila ibu bekerja dampaknya terhadap anak? Menurut, M. Ninik Handayani, S.Psi., dari tim e-psikologi, mengatakan, “Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya,” katanya. Bila anak berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja,” ujarnya pula. Kadang-kadang, lanjutnya, hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya, sebut saja anak rentan terlibat kasus-kasus kenakalan remaja, salah pergaulan dan mengkonsumsi narkoba, serta yang lainnya. Niat hati ingin keluarga lebih baik, alih-alih pembentukan kepribadian anak tidak terbentuk dengan baik. Untuk itu, sebaiknya ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga.

Dra. Alva Handayani, psikolog yang mengkaji masalah perkembangan anak mengatakan, “Ibu yang berkarir jangan segan membawa pekerjaan ke rumah. Jangan khawatir diprotes anak. Mereka malah akan belajar dari orang tuanya bagaimana bertanggungjawab terhadap keluarga dan pekerjaan. Bahkan bila anak punya PR, akan termotivasi, bila tidak bisa diselesaikan di tempat yang seharusnya, pekerjaan tetap bisa dikerjakan sebagai rasa tanggung jawab kita,” katanya Walaupun perkerjaan itu akan menjadikan tugas double, lanjutnya, namun bisa jadi solusi untuk memenuhi kedua kebutuhan, yaitu kebutuhan keluarga dan keinginan pribadi untuk tetap berkarier. “Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari, tetap harus meluangkan waktu di rumah untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya. Meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil,” kata Ninik. Apalagi ketika ibu bekerja terpaksa harus meninggalkan anak yang masih kecil atau balita. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan tersebut. Bila anak dititipkan pada seorang pembantu, lanjutnya, maka orang tua, khususnya ibu, harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak membangun kebiasaan yang baik untuk kemandirian dirinya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya, maka anak-anak yang akan menderita kerugian. Walaupun demikian, kurang bijak pula bila hanya karena kekurangcakapan pembantu istri dilarang bekerja tanpa alasan yang bisa diterima. Karena sebenarnya tugas mengasuh dan membimbing anak bukan hanya tugas ibu saja, tapi ayahnya pun harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga. Sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik. Anak pun akan belajar dari orang tuanya, bagaimana mereka bisa bekerja sama dan kompakan dalam mengatur serta mengelola kegiatan rumah tangga.*** Jalu

sumber : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah

Advertisements

Read Full Post »

Hasil Penelitian The Third International Mathematic and Science Study Repeat (TIMSS-R) pada tahun 1999 menyebutkan bahwa di antara 38 negara, prestasi siswa SMP Indonesia berada pada urutan 34 untuk matematika. Sementara hasil nilai matematika pada ujian Nasional, pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah. Keadaan ini sangat ironis dengan kedudukan dan peran matematika untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan, mengingat matematika merupakan induk ilmu pengetahuan dan ternyata matematika hingga saat ini belum menjadi pelajaran yang difavoritkan.

Rasa takut terhadap pelajaran matematika (fobia matematika) sering kali menghinggapi perasaan para siswa dari tingkat SD sampai dengan SMA bahkan hingga perguruan tinggi. Padahal, matematika itu bukan pelajaran yang sulit, dengan kata lain sebagaimana dituturkan oleh ahli matematika ITB Iwan Pranoto, setiap orang bisa bermatematika. Menurut Iwan, masalah fobia matematika kerap dianggap sangat krusial dibandingkan bidang studi lainnya karena sejak SD bahkan TK, siswa sudah diajarkan matematika. Kalau fisika, baru diajarkan di tingkat SMP. Karena itu, fobia fisika menjadi tidak begitu krusial dibandingkan matematika. Apalagi Kimia yang baru diajarkan ketika tingkat SMA.

Fobia Matematika
Pernah dalam suatu diskusi ada pertanyaan ‘unik’. Apa kepanjangan dari Matematika? Dalam benak saya, apa ada kepanjangan Matematika, selama ini yang diketahui kebanyakan orang, Matematika adalah tidak lebih dari sekedar ilmu dasar sains dan teknologi yang tentunya bukan merupakan singkatan. Setelah berfikir agak lama hampir mengalami kebuntuan dalam berfikir akhirnya Nara Sumber menjelaskan, bahwa Matematika memiliki kepanjangan dalam 2 versi. Pertama, Matematika merupakan kepanjangan dari MAkin TEkun MAkin TIdak KAbur, dan kedua adalah MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan. Dua kepanjangan tersebut tentunya sangat berlawanan.

Untuk kepanjangan pertama mungkin banyak kalangan yang mau menerima dan menyatakan setuju. Karena siapa saja yang dalam kesehariannya rajin dan tekun dalam belajar matematika baik itu mengerjakan soal-soal latihan, memahami konsep hingga aplikasinya maka dipastikan mereka akan mampu memahami materi secara tuntas. Karena hal tersebut maka semuanya akan menjadi jelas dan tidak kabur. Berbeda dengan kepanjangan versi kedua, tidak dapat dibayangkan jika kita semakin tekun dan ulet belajar matematika malah menjadi tidak karuan alias amburadul. Mungkin kondisi ini lebih cocok jika diterapkan kepada siswa yang kurang berminat dalam belajar matematika (bagi siswa yang memiliki keunggulan di bidang lain) sehingga dipaksa dengan model apapun kiranya agak sulit untuk dapat memahami materi matematika secara tuntas dan lebih baik mempelajari bidang ilmu lain yang dianggap lebih cocok untuk dirinya dan lebih mudah dalam pemahamannya.

Terkait dengan rasa apriori berlebihan terhadap matematika ditemukan beberapa penyebab fobia matematika di antaranya adalah yang mencakup penekanan belebihan pada penghafalan semata, penekanan pada kecepatan atau berhitung, pengajaran otoriter, kurangnya variasi dalam proses belajar-mengajar matematika, dan penekanan berlebihan pada prestasi individu. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal ini, peran guru sangat penting. Karena begitu pentingnya peran guru dalam mengatasi fobia matematika, maka pengajaran matematika pun harus dirubah. Jika sebelumnya, pengajaran matematika terfokus pada hitungan aritmetika saja, maka saat ini, guru-guru harus meningkatkan kemampuan siswa dalam bernalar dengan menggunakan logika matematis.

Sekedar diketahui bahwa matematika bukan hanya sekadar aktivitas penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian karena bermatematika di zaman sekarang harus aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan hidup modern. Karena itu, materi matematika bukan lagi sekadar aritmetika tetapi beragam jenis topik dan persoalan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Dari aspek psikologi, menurut psikolog Alva Handayani, peranan orang tua pun dibutuhkan untuk mengatasi fobia matematika. Menurutnya, mengajar matematika bukan sekadar mengenal angka dan menghafalnya namun bagaimana anak memahami makna bermatematika. Orang tua harus memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi, observasi dalam keadaan rileks. Para orang tua tidak perlu khawatir dengan kemampuan matematika para putra-putri mereka. Yang terpenting dalam menumbuhkan cinta anak pada matematika adalah terbiasanya anak menemukan konsep matematika melalui permainan dalam suasana santai di rumah dalam rangka mempersiapkan masa depan anak.

Jika anak sering menemukan orang tua menggunakan konsep matematika, anak akan menangkap informasi tersebut dan akan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, pengaturan uang saku dan tabungan hingga pengaturan jadwal kereta api atau penerbangan.

Tetapi, yang penting untuk diketahui dan dijadikan pegangan adalah bahwa matematika itu merupakan ilmu dasar dari pengembangan sains (basic of science) dan sangat berguna dalam kehidupan. Dalam perdagangan kecil-kecilan saja, orang dituntut untuk mengerti aritmetika minimal penjumlahan dan pengurangan. Bagi pegawai/karyawan perusahaan harus mengerti waktu/jam, Bendaharawan suatu perusahaan harus memahami seluk beluk keuangan. Ahli agama, politikus, ekonom, wartawan, petani, ibu rumah tangga, dan semua manusia ‘sebenarnya’ dituntut menyenangi matematika yang kemudian berupaya untuk belajar dan memahaminya, mengingat begitu pentingnya dan banyaknya peran matematika dalam kehidupan manusia.

Peran Guru dalam Pembelajaran Matematika

Fakta menunjukkan, tidak sedikit siswa sekolah yang masih menganggap matematika adalah pelajaran yang bikin stress, membuat pikiran bingung, menghabiskan waktu dan cenderung hanya mengotak-atik rumus yang tidak berguna dalam kehidupan. Akibatnya, matematika dipandang sebagai ilmu yang tidak perlu dipelajari dan dapat diabaikan. Selain itu, hal ini juga didukung dengan proses pembelajaran di sekolah yang masih hanya berorientasi pada pengerjaan soal-soal latihan saja. Hampir belum pernah dijumpai proses pembelajaran matematika dikaitkan langsung dengan kehidupan nyata. Menyikapi hal ini, menurut hemat penulis dalam rangka menyelamatkan ‘nyawa’ matematika, maka satu hal yang segera dilakukan adalah bagaimana membuat siswa senang untuk belajar matematika?Secara umum, tugas guru matematika di antaranya adalah: Pertama, bagaimana materi pelajaran itu diberikan kepada siswa sesuai dengan standar kurikulum. Kedua, bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan melibatkan peran siswa secara penuh dan aktif, dalam artian proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan dengan menyenangkan. Merupakan tantangan bagi guru matematika untuk senantiasa berpikir dan bertindak kreatif di tengah kegelisahan dan keterpurukan nasib guru. Namun, penulis yakin masih banyak pendidik yang menanggapi ke’lesu’an hidup tersebut dengan sikap optimistik dan penuh tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban sebagai guru.

Masalah pada tahap pertama, yakni menyampaikan materi sesuai dengan tuntutan standar kurikulum. Pembelajaran matematika, yang dirumuskan oleh National Council of Teachers of Matematics atau NCTM (2000) menggariskan, bahwa siswa harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Untuk mewujudkan hal itu, sebagaimana dalam tulisan Yaniawati (2006) dirumuskan ada lima tujuan umum pembelajaran matematika, yaitu: pertama, belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication); kedua, belajar untuk bernalar (mathematical reasoning); ketiga, belajar untuk memecahkan masalah (mathematical problem solving); keempat, belajar untuk mengaitkan ide (mathematical connections); dan kelima, pembentukan sikap positif terhadap matematika (positive attitudes toward mathematics). Semua itu lazim disebut mathematical power (daya matematika).

Sedangkan masalah pada tahap kedua, menetapkan model pembelajaran yang efektif. Pada dasarnya atmosfer pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama, yakni siswa, kompetensi guru, dan fasilitas pembelajaran. Ketiga komponen tersebut pada akhirnya bermuara pada area proses dan model pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran matematika antara lain memiliki nilai relevansi dengan pencapaian daya matematika dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar mandiri selain dapat menarik perhatian siswa dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi.

Berorientasi pada Siswa

Agar tujuan pembelajaran Matematika dapat tercapai maksimal, maka harus diupayakan agar semua siswa lebih mengerti dan memahami materi yang diajarkan daripada harus mengejar target kurikulum tanpa dibarengi pemahaman materi. Dalam prakteknya, pembelajaran berorientasi pada siswa ini dapat dilaksanakan dengan cara pendampingan siswa satu persatu atau per kelompok. Penjelasan materi dan contoh pengerjaan soal diberikan secara klasikal di depan kelas. Kemudian ketika siswa mengerjakan latihan soal guru (beserta asistennya) keliling untuk memperhatikan siswa secara personal. Tugas guru adalah membantu siswa agar dapat menyelesaikan tugasnya sampai benar. Siswa yang pandai akan mendapat perhatian yang kurang sementara siswa yang lemah akan mendapat perhatian yang lebih intensif.

Hal yang paling esensial ketika mendampingi (terutama bagi yang berkemampuan rendah) adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa bahwa saya (baca: siswa) bisa dan mampu mengerjakan soal. I can do it. Guru harus berusaha menghilangkan persepsi dalam diri siswa bahwa matematika itu sulit dan mengusahakan agar siswa memiliki pengalaman bahwa belajar matematika itu mudah dan menyenangkan. Kiranya model pembelajaran ini dapat berjalan efektif jikalau kapasitas siswa setiap ruang adalah berkisar 15 – 20 siswa. Tetapi jika lebih, maka pembelajaran model yang demikian tetap dapat berlangsung namun harus dibantu oleh beberapa guru atau asisten.

Belajar Matematika yang Menyenangkan

Usaha selanjutnya adalah mengusahakan bagaimana agar suasana ruang kelas yang digunakan untuk belajar siswa adalah kondusif. Dengan kata lain tata letak perabot kelas tidak harus diatur secara ‘formal’. Sering kita jumpai, ada siswa yang malas belajar ketika harus duduk tenang dan serius. Mereka lebih senang dan nyaman ketika belajar sambil tidur-tiduran di atas karpet. Menyikapi hal ini guru sebaiknya memberi kebebasan kepada siswa untuk belajar atau mengerjakan soal latihan di atas bangku atau di lantai.

Ada juga siswa yang dalam belajarnya harus mendengarkan musik. Memang, musik tidak berkaitan langsung dengan matematika. Musik bukan merupakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Namun musik memainkan peran dalam membantu untuk menciptakan kenyamanan belajar di kelas. Musik hanya merupakan pengiring ketika para siswa mengerjakan soal. Sehingga musik dapat membuat siswa lebih nyaman ketika belajar matematika. Namun, dalam hal ini etika dan menghargai teman lain juga perlu diperhatikan. Rasanya tidak mungkin jika dalam satu kelas tersebut lalu guru memberi kebebasan kepada siswa membawa tape, radio yang berukuran besar. Tapi, hal ini dapat dilakukan misalnya memberi izin kepada siswa untuk menggunakan walkman, atau lainnnya yang penting tidak mengganggu konsentrasi siswa lainnya.

Selain tersebut, dijumpai juga siswa yang senang ‘ngemil’ atau makan-makanan yang ringan seperti permen, kerupuk atau lainnya. Menyikapi siswa yang demikian tentunya guru juga tidak dapat melarang serta merta kepada siswa untuk makan di dalam kelas. Pada intinya, apapun yang dapat menjadikan siswa nyaman dan senang untuk belajar matematika sebaiknya oleh sang guru tidak dilarang secara keras. Berikan kebebasan bergerak dan befikir kepada siswa yang tentunya juga tetap dalam batas-batas kewajaran.

Penutup

Menyelenggarakan pembelajaran matematika secara nyaman dan dapat membuat siswa bergairah untuk mengikutinya merupakan hal yang sudah tidak dapat ditawar lagi untuk menuju bangsa yang berkemampuan unggul dalam Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan mempraktekkan strategi pembelajaran di atas diharapkan ‘nyawa’ matematika dapat terselamatkan. Dengan kata lain, siswa tidak lagi terjangkit penyakit fobia matematika. Dengan demikian siswa menjadi senang untuk belajar matematika yang tentunya akan berdampak pada penguasaan dan pemahaman terhadap materi matematik yang merupakan ilmu dasar untuk pengembangan sains dan teknologi.

“Banyak orang mendorongku agar berada di’tengah’ perhatian, namun aku lebih suka berada di’tepi’ perhatian, karena disitulah kita merasa lebih baik….
Sumber :http://www.acehforum.or.id/

Read Full Post »

Menyedihkan ketika mendengar seorang anak mengeluhkan penghasilannya yang kecil. Sangat ironis pula kala seorang anak menganggap bermain sebagai kegiatan yang buang-buang waktu karena tidak menghasilkan uang. Mereka tahu, bermain dan belajar adalah hak mereka. Namun, entah mengapa, angin kehidupan justru membawanya jauh dari mimpi itu.

Bagi para pekerja anak, bermain dan belajar bisa jadi merupakan barang mahal. Dalam usia yang masih belasan tahun atau bahkan balita, konsep kewajiban bekerja untuk menghasilkan uang sudah tertancap kuat di benak mereka. Mereka dipaksa untuk berpikir dan berperan sebagaimana orang dewasa dan melewatkan proses belajar nilai yang seharusnya mereka lakoni.

Menurut Psikolog Anak dan Remaja Alva Handayani, usia 0-12 tahun merupakan masa perkembangan otak dan kepribadian yang sangat penting bagi seorang manusia. Saat itulah seseorang mempelajari nilai-nilai afeksi, toleransi, kepemimpinan, rasa hormat, dan keterampilan hidup dari teman sebayanya. Inilah yang akan menjadi pegangan mereka ketika memasuki dunia remaja dan orang dewasa.

Tidak peduli pekerjaan anak itu berupa penyanyi cilik atau buruh bangunan, keduanya sama-sama dianggap merenggut hak anak untuk bermain dan belajar. “Mungkin pada kasus pekerja anak golongan atas itu cukup beruntung karena orang dewasa di sekelilingnya lebih mengerti dan berpendidikan. Akan tetapi bagi anak dari kelas bawah, risiko pelanggaran haknya jauh lebih besar,” katanya.

Bisa saja waktu bekerja anak dipadankan dengan waktu bermain anak. Pasalnya saat bekerja, anak juga berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman sebayanya yang juga pekerja. Namun bagaimana dengan waktu belajar mereka? Berdasarkan UU, bukankah setiap anak wajib mengenyam pendidikan dasar 9 tahun? Hak ini sering kali dilanggar oleh para majikan dan orang tua.

Bagi pekerja anak, upaya untuk menyeimbangkan perkembangan dengan membagi waktu bermain bersama teman sebaya juga tidak mudah. Bagaimana tidak, di tempat kerja dia dituntut untuk berpikir seperti orang dewasa. Akan tetapi, saat kembali ke lingkungan teman sebayanya, dia harus segera bertingkah sebagai anak-anak lagi supaya diterima. Tanpa kemampuan adaptasi yang cepat ini, besar kemungkinan dia akan ditolak oleh teman sebayanya. Kalau sudah begitu, seorang pekerja anak akan terjebak lebih dalam di dunia orang dewasa.

“Pekerja anak itu akan lebih banyak bergaul dengan orang dewasa sehingga menjadi dewasa sebelum waktunya,” katanya.

Kemampuan beradaptasi itu hanya bisa didapatkan seorang anak dengan bimbingan dari orang dewasa. Namun di lingkungan pekerja anak, jarang ada orang dewasa yang memiliki waktu dan pengetahuan untuk melakukan hal tersebut. Hampir selalu ada agenda tersembunyi di balik bimbingan orang tua atau majikan, yaitu mengambil keuntungan dari sang anak.

Menjadi dewasa sebelum waktunya, bisa menjadi berbahaya bagi perkembangan anak. Pada suatu titik, anak-anak yang terlalu banyak bergaul dengan orang dewasa akan merasa boleh melakukan apa saja, termasuk beberapa kebiasaan buruk orang dewasa. Misalnya, merokok atau menggunakan narkoba.

Alva juga memperingatkan tentang kelelahan psikologis yang dapat menyergap para pekerja cilik ketika mereka beranjak dewasa. Bagaikan lampu senter yang dinyalakan sejak siang, dia akan redup ketika malam tiba.

Jika pada usia muda anak Indonesia sudah merasa muak untuk berjuang, tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya bangsa ini di masa depan. Beberapa pihak mungkin menganggap pekerja anak sebagai jalan pintas menyelesaikan masalah perut yang sesaat. Namun, sepadankah itu dengan dampak psikologis yang harus ditanggung bangsa ini? (Lia Marlia)***

Sumber : pikiran-rakyat.com

Read Full Post »

Sebagian pasangan suami istri, tentu berharap kata cerai tidak hinggap dalam keluarganya. Kendati demikian, cerai bisa menjadi jalan keluar yang lebih baik bagi suami istri yang sudah buntu menghadapi masalah yang pelik.

Dalam agama Islam, cerai bahkan menempati posisi dilematis, di mana perbuatan ini dibolehkan namun merupakan salah satu hal yang dibenci Tuhan. Gampangnya, sebisa mungkin setiap rumah tangga tidak perlu bercerai bagaimanapun kondisinya. Namun, tentunya tidak bisa semudah itu. Banyak aspek dan alasan yang membuat pasangan suami istri memutuskan bercerai.

Dari sekian banyak hal yang ditangani Pengadilan Agama, perceraian menempati porsi tinggi yaitu sekitar 75%. Lainnya, lembaga ini menangani poligami, waris, usulan harta bersama (gono-gini), serta adopsi.

Berdasarkan keterangan dari Wakil Panitera Pengadilan Agama Bandung Kelas IA, Rahmat Setiawan, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kecenderungan masyarakat untuk bercerai pada 2008 mengalami peningkatan.

“Hingga Oktober 2008, tercatat sebanyak 2.127 gugatan cerai yang masuk ke pengadilan agama. Sedangkan 2007 tercatat sebanyak 2.085 perkara yang masuk, termasuk perkara selain cerai seperti waris serta pembagian harta bersama,” kata Rahmat.

Ketika terjadi krisis moneter pada 1998, grafik angka perceraian meningkat drastis. “Tapi, beberapa tahun ke belakang grafiknya mulai stabil lagi. Berkisar 2.000 kasus per tahun,” katanya.

Perceraian memang banyak terjadi. Bahkan, sekitar awal 1990-an, jumlah kasus cerai mencapai 4.000. “Akhir-akhir ini perceraian serasa menjadi booming karena orang yang bercerai sudah bisa terbuka mengenai status pernikahannya,” tuturnya.

Pengadilan Agama Bandung, selama Oktober tahun ini, menerima 251 perkara gugatan cerai. Dari 153 perkara yang dikabulkan, satu perkara ditolak, empat perkara diterima, dua gugatan digugurkan, serta 14 gugatan cerai dicabut, dan lainnya masih dalam proses sehingga diakumulasikan di bulan selanjutnya.

Untuk 14 gugatan cerai yang dicabut, bisa dikarenakan mediasi yang berhasil. Menurut Rahmat, mulai 2008 tahap mediasi lebih ditingkatkan lagi bagi pasangan yang ingin bercerai. Mediasi merupakan upaya untuk menasihati pasangan agar tidak jadi bercerai dan kembali membina rumah tangga.

Tahapan ini cukup penting karena majelis hakim tidak semata-mata menjatuhkan putusan jika saja pasangan tersebut belum yakin untuk bercerai.

**

Setidaknya ada 13 alasan sepasang suami istri bercerai. Di antaranya poligami tidak sehat, krisis akhlak, kawin paksa, alasan ekonomi, cacat biologis, tidak ada tanggung jawab (dalam rumah tangga), serta rumah tangga yang tak lagi harmonis.

Dari total perkara pada Oktober tahun ini, dua alasan terakhir menjadi alasan terbanyak seseorang menggugat cerai pasangannya. Sebanyak delapan gugatan dilayangkan karena pasangan tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, dan 243 gugatan disebabkan oleh kondisi rumah tangga yang sudah tidak harmonis.

Rahmat sungguh menyayangkan rumah tangga yang harus berujung perpisahan karena alasan “sudah tidak harmonis lagi”. Menurut dia, ternyata banyak pasangan yang bercerai tidak semata-mata karena munculnya pihak ketiga. “Ada juga yang kondisinya baik-baik saja. Ekonominya cukup dan tidak ada pihak ketiga. Namun tetap saja mereka ingin bercerai karena sudah merasa tidak cocok,” katanya.

**

Ketidakcocokan atau perbedaan prinsip seringkali menjadi kambing hitam terjadinya perceraian. “Padahal, seringkali perbedaan prinsip itu dibarengi dengan keras kepala. Masing-masing memegang prinsipnya. Perceraian terjadi karena tidak ada solusi masalah,” kata psikolog Alva Handayani dari Universitas Islam Bandung.

Sebelum melangsungkan pernikahan, calon pasangan suami istri sebaiknya melakukan konseling pranikah. Konseling ini dilakukan juga oleh Kantor Urusan Agama (KUA). Sayangnya, hanya sedikit calon pasutri yang memanfaatkan proses ini. Padahal, sertifikat konseling dilampirkan sebagai syarat untuk menikah.

Sebelum menikah ada baiknya membicarakan kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang akan terjadi. Misalnya, bagaimana seandainya terjadi penurunan pendapatan dan sebagainya. Beberapa pasangan membuat perjanjian pranikah sebagai usaha preventif jika terjadi sesuatu dalam perkawinan.

“Tapi kan di Indonesia perjanjian pranikah tidak lazim, karena menikah bagi kita adalah kepercayaan. Landasan pernikahan itu percaya,” kata Alva.

Pasangan yang akan menikah tidak hanya mempersiapkan mental, tetapi juga psikologi dan ekonomi. “Banyak yang tidak membicarakan hal-hal buruk itu karena takut kualat. Padahal ini penting,” katanya.

Perceraian, menurut Alva, lebih dipengaruhi kematangan pribadi. Tidak peduli tua atau muda. Oleh karena itu, kematangan berpikir harus dimiliki pasangan yang hendak menikah. “Ada juga perceraian yang terjadi pada umur 70 tahun,” ujarnya.

Bagi suami istri yang sedang bermasalah, Alva menyarankan agar keduanya membuang egoisme dan mengendalikan emosi masing-masing. “Kalau situasinya sudah membaik, usahakan untuk ngobrol. Tapi, kalau dua-duanya masih emosi, ya tidak ada yang rasional,” katanya.

Meminta saran dan masukan dari orang-orang yang dipercaya juga dinilai positif. “Bisa juga minta bantuan profesional, misalnya psikolog. Sayangnya, masyarakat belum banyak memanfaatkannya,” katanya. (Eva Fahas/Catur Ratna Wulandari)***

Sumber : pikiran-rakyat.com

Read Full Post »

Masalah Lebih Besar
Alva Handayani, psikolog

Orang-orang yang memalsukan surat nikah atau cerai bisa jadi orang yang impulsif yang ditandai dengan keharusan untuk memenuhi setiap keinginannya, termasuk memanipulasi surat nikah ataupun cerai. Seseorang yang melakukan manipulasi semacam itu cenderung melakukan penipuan untuk hal-hal lain. Kecurangan kecil adalah awal dari kecurangan besar. Penipuan semacam ini justru menimbulkan potensi masalah yang jauh lebih besar.**

Sumber : pikiran-rakyat.com

Read Full Post »

BANJAR, (PR).-
Dampak penyelenggaraan pemilu legislatif (pileg) kembali bermunculan dan memakan korban jiwa. Di Ciamis, seorang calon anggota legislatif (caleg), Sri Hartati (23) yang tengah hamil empat bulan, nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di salah satu saung di Dusun Cigarogol, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis, Selasa (14/4).

Sri Hartati adalah caleg PKB nomor urut 8 untuk daerah pemilihan (dapil) 1 Kota Banjar. Dalam penghitungan suara, dia tidak lolos.

Korban sebelumnya telah dicari selama sehari, namun tidak ditemukan. Baru kemudian ditemukan sudah menjadi mayat, Selasa (14/4) sekitar pukul 7.00 WIB, oleh dua orang yang hendak menyadap nira kelapa, Aan dan Heri, warga Bangunjaya.

Saat itu, keduanya bermaksud pergi ke kebun untuk menyadap nira. Saat hendak melewati saung yang ada di tepi kebun dan berada jauh dari permukiman, mereka melihat sosok orang yang tampak sedang duduk di dalam saung. Setelah didekati, ternyata itu adalah sosok wanita yang tergantung dengan kaki menyentuh tanah. Korban mengakhiri hidupnya dengan menggantung di tiang saung dengan mempergunakan kerudung yang dipakainya dan kemudian disobek menjadi tali.

Menurut suami korban, Mastur Maulana (24), setelah pencontrengan di TPS 5 Situbatu Kota Banjar, pada Sabtu (11/4) dia mengajak istrinya pulang ke rumah orang tua Mastur di Dusun Cikadu, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar.

Kepergian korban diketahui Mastur pada Senin (13/4) sekitar pukul 2.00 WIB. Saat Mastur terbangun, dia tidak mendapati istrinya yang baru dinikahi beberapa bulan itu. Bersama dengan anggota keluarganya, Mastur melakukan pencarian ke berbagai tempat saudaranya dan juga melaporkan ke polisi. Teka teki hilangnya korban baru diketahui setelah dua penyadap nira menemukan tubuh Sri sudah tergantung di saung.

Menurut bidan Puskesmas Langkaplancar, Iis Istikomah, yang ikut memeriksa kondisi kandungan korban mengatakan bahwa dalam perut Sri sudah ada janin berumur empat bulan. Saat ditemukan juga terdapat darah yang sudah mengering pada bagian paha.

Seminggu sebelum pencontrengan, pasangan Mastur dengan Sri melakukan syukuran pernikahan.

Menurut Ketua Tanfidziyah PKB Ciamis, Zaenal Muttaqien, korban bukan pengurus struktural, namun merupakan simpatisan yang kemudian ikut mendaftar sebagai caleg. “Untuk memenuhi ketentuan perundangan, kita menerima caleg perempuan. Salah satunya adalah Sri. Dan sebenarnya almarhum juga tidak mendapatkan beban atau bekerja keras untuk mendulang suara. Kita menyadari bahwa caleg di dapil 1 semuanya relatif masih pemula,” ungkapnya.

Zaenal menegaskan bahwa tindakan nekat korban tidak terkait dengan pencalonan. Alasannya, karena bergabung dengan PKB untuk lebih menambah wawasan, menambah pergaulan, dan mencari pengalaman.

Tertekan suara anjlok

Sementara itu, Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bongas, Indramayu, Warso (58), warga Desa Margamulya Blok Gebang Mampang RT 14 RW 04 meninggal dunia, Senin (13/4) setelah mengalami stroke.

Menurut adik korban, Hasanudin (46), Warso mengalami stroke pada Jumat (10/4). Warso diduga merasa tertekan setelah ada yang memberi tahu bahwa perolehan suara PDIP di Kecamatan Bongas jeblok. Padahal, selama ini Bongas merupakan salah satu lumbung peraihan suara partai tersebut.

Oleh keluarganya, korban dibawa ke RS Pantura MA Sentot Patrol, Indramayu. Namun, karena tidak dapat tertangani, sempat dibawa kembali ke rumahnya sampai akhirnya dilarikan ke RS Muhammadiyah Bandung dan meninggal di rumah sakit tersebut.

Simpatisan meninggal

Seorang simpatisan Partai Golkar, Daris Kurniawan (42), meninggal dunia di halaman Kantor Kecamatan Regol, Jln. Denki No. 54, Kel. Ciseureuh, Kec. Regol, Bandung, Selasa (14/4) pukul 17.05 WIB. Daris yang juga anggota tim sukses caleg Edwin Sanjaya, diduga meninggal karena kelelahan.

Adik korban, Evi Suherlan (33), menuturkan, kakaknya selama ini terlihat sehat dan tidak pernah mengeluh sakit. “Tapi memang hampir setiap hari, sejak pencontrengan, dia pergi pagi pulang tengah malam. Kadang pulang jam 1 atau jam 2 dini hari,” ucapnya.

Kapolresta Bandung Tengah Ajun Komisaris Besar I Wayan Supartha menuturkan, korban diduga meninggal karena kelelahan. “Jenazah selanjutnya dibawa ke RS Sartika Asih untuk divisum,” katanya.

Ketua PPK pingsan

Sementara itu, Ketua PPK Kadungora Kab. Garut Yusuf Amin pingsan ketika sedang mengurusi kekurangan form C2, saat rekapitulasi suara di Kantor PPK Kadungora, Selasa (14/4) pagi. Untuk mendapat penanganan medis, Yusuf pun segera dirawat di RSU dr. Slamet Garut Ruang Intan Kamar 16.

“Saya lagi pusing mikirin form C2 yang kurang saat sedang rekapitulasi suara. Tiba-tiba, kepala jadi pusing beneran. Waktu sadar, saya sudah ada di ruangan perawatan,” ujarnya.

Yusuf menduga, dirinya kelelahan selama proses pemungutan suara Pileg 2009. “Sebelum pencontrengan berlangsung sampai hari ini, waktu istirahat sangat terbatas, untuk makan saja kadang lupa. Bahkan, sempat begadang untuk menyelesaikan rekapitulasi suara agar selesai. Tapi, ya akhirnya tumbang juga,” ungkapnya.

Harapan terlalu tinggi

Terlalu tingginya ekspektasi tanpa diimbangi kemampuan untuk mencapainya, menjadi pemicu sejumlah caleg di Jawa Barat menderita sakit jiwa pasca-Pemilu Legislatif 2009. Hal itu diungkapkan psikolog Alva Handayani kepada “PR” di Bandung, Selasa (14/4).

Menurut Alva, kegagalan merupakan hal yang umum yang bisa dialami oleh siapa saja. Akan tetapi, kegagalan bisa juga menjadi pemicu seseorang menderita gangguan jiwa. Alasannya, tidak semua orang bisa menghadapi kegagalan dengan sikap positif. Oleh karena itu, kata Alva, untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa, individu jangan mengharapkan sesuatu yang di luar kemampuan untuk mendapatkannya.

Terkait dengan kasus caleg yang bunuh diri, Alva menjelaskan, perasaan malu yang muncul karena pada masa kampanye sudah merasa percaya diri bakal terpilih, telah membuat jiwa yang bersangkutan tertekan.

Menurut dia, kerugian materi yang besar membuat persoalan yang bersangkutan semakin kompleks. “Ini kejadiannya seperti yang menimpa calon bupati di Ponorogo, yang terbelit utang besar. Kemudian ditinggalkan istri pula,” kata Alva. (A-96/A-101/A-128/A-133/A-158)***

Sumber : pikiran-rakyat.com

Read Full Post »

Anak bukanlah anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan
Cinta kasihmu dapat kau berikan pada mereka, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka mempunyai pikiran sendiri
Raga mereka dapat kau kurung, tapi tidak jiwa mereka
Karena jiwa mereka tinggal di rumah masa depan
Yang tak dapat kau kunjungi
Bahkan tidak melalui mimpimu
Kau dapat berjuang untuk menyerupai mereka
Tapi jangan coba buat mereka menyerupaimu
Karena hidup tidak berjalan mundur
Ataupun berlambat-lambat dengan hari kemarin
Kau adalah busur yang memastikan mereka,
Anak panah yang berjiwa

(Kahlil Gibran)

“ANAK merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya”. Begitu ditegaskan Imam Al-Ghazali dalam kitab mashurnya Ihya ‘Ullumuddin, sekaligus sebagai wanti-wanti bagaimana tanggung jawab para orang tua terhadap anak-anak mereka. Dalam konteks yang lebih luas, amanat itu juga terletak pada pundak negara atau para pemimpin di semua level pemerintahan.

MASA depan anak jalanan harus mendapat perhatian dari pemerintah dan harus benar-benar muncul dari kepedulian untuk mengangkat anak jalanan dari jurang keterpurukan.*Dok.”PR”
Mantan Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar juga pernah berucap, “the way of society treats its children reflects not only its qualities of compassion and protective caring, but also its sense of
justice, its commitment to the future, and its urge to enhance the human condition for coming generations. This is as indisputably true of the community of nations as its is of nations individually”.

Memang, bagi negara-negara yang sudah memahfumi betapa keberlangsungan sebuah bangsa terletak pada bagaimana kualitas anak-anak sebagai generasi pelanjut, pemenuhan hak-hak anak merupakan keniscayaan dalam segenap aktivitas berbangsa dan bernegara. Hanya, fakta tak bisa dipungkiri bahwa perlakukan ideal negara (state) serta pemenuhan hak-hak anak itu hanya menjadi milik negara-negara maju.

Di banyak negara berkembang (third world countries), potret kehidupan keseharian anak-anak lebih merepresentasikan latar yang buram, mengenaskan, bahkan teramat memedihkan. Tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan negara tak lebih hanya berupa jargon, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. Betapa keceriaan menghabiskan kehidupan masa kanak-kanak hanya menjadi impian mayoritas anak-anak di negeri ini. Kebebasan mengekspresikan segala hal yang berkaitan dengan dunia yang masih putih tanpa noda, sungguh hanya impian yang muncul di saat mereka terlelap.

Pengamat sosial yang juga anggota Komisi Hukum Nasional Harkristuti Harkrisnowo bahkan memprihatinkan bahwa pada masa ini kedudukan dan hak anak dilihat dari perspektif yuridis masih jauh dari apa yang sebenarnya harus diberikan kepada mereka. “Hak-hak yang berkenaan dengan hukum perdata, hukum pidana, ketenagakerjaan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan juga pendidikan yang kini ada, tiadalah memadai untuk memberian perlindungan khusus bagi anak-anak. Kondisi ini makin dipersulit oleh lemahnya penerapan hukum mengenai hak-hak anak yang sedikit sudah ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan,” ungkap Harkristuti.

Memang, bukan tak terdengar langkah-langkah antisipatif dari pemerintah untuk menanggulangi persoalan yang dihadapi anak-anak kita. Terutama yang keceriaannya sudah benar-benar terampas dari hidup mereka sehingga menyandang predikat anak-anak jalanan (anjal). Hanya, apakah solusi dan program yang dicanangkan pemerintah itu benar-benar muncul dari kepedulian untuk benar-benar mengangkat anjal itu dari jurang keterpurukan?

Sementara itu, di sisi lain kita melihat bahwa sejatinya donasi dalam jumlah besar bagi perbaikan harkat hidup anjal itu lebih banyak muncul dari institusi asing. Anggaran program untuk anjal di awal masa krisis yang telah menghabiskan dana miliaran rupiah, senyatanya berasal dari badan-badan seperti Asian Development Bank (ADB), USAid, UNICEF, CCF yang notabene bukan lembaga pribumi.

Lantas, di manakah sebetulnya posisi pemerintah kita dalam upaya penanggulangan ini? Atau, seberapa besar sebetulnya tingkat kepedulian mereka? Karena, pada sisi ekstrem lain kita menyaksikan yang lebih mengemuka justru bukan kebijakan-kebijakan yang merepresentasikan kepedulian tersebut. Kenyataan di lapangan semakin membuat kita sangsi terhadap kinerja dan political will para pengambil keputusan untuk menuntaskan segenap ketimpangan di negeri ini, termasuk mengangkat harkat hidup anjal dan
penghapusan kemiskinan secara umum.

Di lapangan, kita menyaksikan dengan perasaan pilu betapa praktik-praktik kotor penyimpangan dan manipulasi berbagai anggaran pembangunan terus dilakukan pejabat pemerintah kita. Titel sebagai negara papan atas dalam soal korupsi di dunia, merupakan fakta tak terbantahkan betapa peyimpangan dan penyelewengan sudah menjadi kultur aparat kita. Dengan kenyataan seperti itu, kita sulit untuk meyakini bahwa persoalan anjal, juga kemiskinan dan kesenjangan (disparity) sosial yang kian melebar,
akan segera sirna dari negeri ini.

**

DALAM sebuah talk show di Hotel Homann Bandung, 30 November 2002, Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana mencanangkan program “Menuju Bandung Raya Bebas Anak Jalanan (Target Ideal 2004)”.

Tentu saja kita terperangah oleh program yang terkesan ambisius ini, untuk tidak mengatakan program yang utopis ini. Kendati memang diembel-embeli dengan kalimat “Target Ideal 2004” yang ditulis dalam
kurung –sehingga bisa juga dipersepsi kalau tidak tercapai, yah, tidak menjadi soal– tetap saja pencanangan program seperti ini mengundang pertanyaan kritis dalam benak semua orang. “Saya kira, pencanangan target sebagai sebuah upaya untuk memotivasi langkah-langkah pemerintah serta untuk
memberikan semangat harus kita sambut dengan baik. Hanya, memang, semuanya tetap harus dilandasi sikap yang lebih realistis. Kalau memang tahun 2004 itu dijadikan target untuk penghapusan anak jalanan di wilayah Bandung Raya, ya berbagai kebijakan dan program pemerintah dan seluruh pihak terkait harus diarahkan untuk itu, jadi jangan sekadar target di atas kertas,” papar psikolog dan pemerhati anak jalanan dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Alva Handayani, S.Psi.

Menurut Alva, persoalan anjal memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi. “Tak bisa kita hanya mencoba menyelesaikannya dari satu sisi saja. Selain itu, persoalan jalanan adalah kemiskinan, mereka berasal dari keluarga miskin,” ungkap Alva.

Dikatakan, sebagian besar anak jalanan mempunyai orang tua. Mereka ke jalanan dalam rangka membantu orang tua mereka yang miskin. “Jadi, inti permasalahannya di sini adalah kemiskinan di keluarga yang hanya dapat diatasi dengan memberi bantuan ekonomi pada keluarga,” kata dia.

Toh demikian, Alva Handayani juga tidak menepis bahwa anak jalanan tidak bisa dilihat sebagai populasi homogen. Menurut Alva, memang paling banyak adalah anak-anak dari keluarga miskin, dan itu yang menjadi pekerja anak di jalan. “Namun, ada 10-15 persen anak-anak yang betul-betul hidup di jalan karena tidak ada orangtua. Mereka itulah yang bisa disebut sebagai anak jalanan sejati. Rumahnya ya di jalan itu. Untuk mereka, tidak ada tempat selain rumah singgah,” kata dia.

Untuk itu, Alva tetap beranggapan bahwa program semacam rumah singgah tetap diperlukan untuk menampung para anjal ini. “Jadi, rumah singgah masih diperlukan, karena disitulah tempat anak-anak jalanan yang tidak pulang ke rumah orang tuanya, tidak hanya untuk beristirahat, tetapi juga belajar,” ujar Alva.

Alva sendiri juga tak menepis kenyataan bahwa dari sekian banyak LSM yang membuat program rumah singgah ini tidak semua beranjak dari niat tulus dan kepedulian untuk menanggulangi fenomena sosial ini. “Ya, ada juga LSM yang hanya memanfaatkan donasi berbagai lembaga. Tetapi, tentu saja kita
jangan mengesampingkan LSM-LSM yang benar-benar memiliki care bagi upaya penanggulangan Anjal ini,” tambah dia.

Yang lebih harus dilakukan, lanjut Alva Handayani, adalah menyempurnakan program rumah singgah ini agar sesuai dengan kompleksitas persoalan. “Banyak rumah singgah yang sekadar menjadi tempat tinggal belaka, tanpa dilengkapi berbagai fasilitas pendukung di dalamnya, seperti aspek psikologi, hukum, kesehatan, dll. Jadi, semuanya menjadi program yang terintegrasikan,” tegas dia.

Lebih jauh dikatakan, dampak sosial dari krisis ekonomi yaitu terjadinya lay-off (pengurangan) tenaga kerja besar-besaran yang menyebabkan tenaga kerja anak-anak di sektor industri berkurang. Hal ini telah mendorong mereka untuk turun ke jalanan sehingga jumlah anak jalanan meningkat. “Hal
tersebut didukung pula dari sikap orang tua yang cenderung mendorong anaknya untuk bekerja. Akhirnya banyak anak yang terpaksa meninggalkan sekolah karena sikap tersebut. Anak lebih baik bekerja sehingga menghasilkan uang daripada harus pergi ke sekolah yang menghabiskan uang dan tidak menjanjikan masa depan kerja yang lebih baik. Karena hal seperti inilah yang memunculkan
hubungan eksploitatif antara orang tua dan anak yang dapat mennyebabkan anak tidak betah di rumah dan cenderung lari ke jalanan yang dirasa bebas,” papar dia.

Namun, di jalanan, lanjut Alva, mereka mengalami kekerasan yang lebih dahsyat lagi. Mereka tak jarang terlibat dalam pencurian, perkelahian, tindak kekerasan, jual beli dan penyalahgunaan narkotika serta menukar seks demi uang dan perlindungan. “Inilah yang menjadi betapa persoalan anak jalanan ini begitu kompleks, sehingga solusi penanggulangannya juga membutuhkan kebijakan yang komprehensif,” tegas dia.

Dikatakan juga, berbagai krisis dan ketidakpastian yang melanda Indonesia akhir-akhir ini membuat sejumlah anak berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. “Di tengah konflik sosial serta krisis yang masih melanda negara kita, persoalan anak jalanan memang tidak menjadi isu sentral pemerintah, inilah yang membuat program penanggulangannya seringkali tidak fokus. Tetapi, tetap kita harapkan kebijakan-kebijakan untuk masalah anak jalanan ini harus dilakukan secara multidisipliner, dalam arti menyentuh berbagai aspek yang berkaitan dengannya. Tanpa itu semua, program dan kebijakan itu hanya menyentuh persoalan permukaannya saja,” tutur Alva.

Senada dengan Alva, pengamat sosial yang juga Kepala Pusat Dinamika Pembangunan Universitas Padjadjaran (PDP Unpad) Bandung Dr. Ganjar Kurnia, Ir. D.E.A., mengatakan bahwa persoalan anak jalanan ini harus diselesaikan dari akar persoalannya, yakni kemiskinan struktural yang melanda mayoritas rakyat Indonesia. “Pemerintah harus benar-benar memahami bahwa negara memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk pemenuhan seluruh hak-hak warga negaranya, termasuk persoalan anak-anak. Ini semua diatur oleh konstitusi sehingga sebetulnya rakyat bisa menuntut pemerinatah ketika hak-hak mereka terabaikan. Tetapi, kan memang persoalan menjadi semakin
panjang ketika kita menyadari bahwa fungsi public service yang menjadi peran hakiki pemerintah seringkali tidak disadari oleh mereka. Pemerintah lebih berasyik masyuk dalam pemenuhan kepentingan mereka sendiri,” papar Ganjar. Kalau demikian, mungkinkah pencanangan “Bandung Raya Beban Anak Jalanan (Target Ideal 2004)” tercapai adanya? (Erwin Kustiman )

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah

Read Full Post »

Older Posts »