Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘about alva’ Category

Pikiran Rakyat , Sabtu, 25 Oktober 2008

ALVA Handayani, sebetulnya bisa membagi ilmunya di Bandung atau kota besar lainnya. Namun pada satu masa kehidupannya justru ia ingin memberikan apa yang dia punya kepada orang-orang pelosok-pelosok desa. Maka, sang psikolog itu pun menjadi relawan antara lain di lokasi shooting Laskar Pelangi.

“Ya Allah, saya tidak mampu menjaga suami saya dan anak saya sekaligus. Tolong izinkan saya untuk hanya menjaga suami saya… Dan anak saya yang dalam kandungan ini, tolong Allah saja yang jaga ya?” Begitulah doa Alva Handayani beberapa tahun lalu, ketika mendampingi suami yang sakit kanker stadium 4. Saat itu, psikolog anak yang kini sering menjadi pembicara di banyak seminar dan talkshow ini, tengah mengandung anak tunggalnya, Edwina Rismayanti (14). Sang suami digerogoti penyakit ganas itu di Lampung. Doa tersebut Alva panjatkan, karena dia merasa energinya lebih dibutuhkan untuk mendampingi suami, sebagai bentuk pengabdian seorang istri. “Alhamdulillah, saya bisa mendampingi suami hingga saat-saat terakhir, membisikkan kalimat-kalimat Allah di telinganya,” ujarnya mengenang. Alva baru merasa berada di titik terendah dalam hidupnya, justru ketika dia kembali ke Bandung. Perempuan kelahiran 12 Desember 1969 ini khawatir tidak mampu memberikan kebahagiaan utuh kepada anak dalam kandungannya, tanpa kehadiran suami. Namun tendangan pertama putrinya saat usia kehamilan 5 bulan, seolah menyadarkan Alva bahwa Tuhan telah kembali menitipkan amanah lain setelah suaminya. Amanah itu juga harus dijaga, dan oleh karenanya dia harus menjadi orang yang lebih kuat lagi. Sampai sekarang, Alva mengaku masih dapat merasakan tendangan pertama itu, dan selalu mengingat kebesaran Tuhan setiap kali mengingatnya. Dan kekhawatiran itu pun sirna tak berbekas. “Waktu itu, saya terlalu memusatkan kecemasan saya pada apa yang belum tentu terjadi. Padahal Allah sudah mempersiapkan semuanya untuk saya, dan Dia tidak akan memberi beban di luar kemampuan seseorang,” tuturnya yakin. Dia pun memilih bangkit dan membesarkan anaknya menjadi orang yang baik. Sebagai seorang psikolog anak, lulusan Fakultas Psikologi Unpad ini mengaku menjadikan putrinya sebagai “eksperimen” semua ilmu psikologi tentang perkembangan yang dia pelajari. Lewat pendidikan ini, Alva ingin Ewin (begitu nama panggilan putrinya) menjadi orang yang mandiri, dan memanfaatkan masa pertumbuhannya untuk belajar apa pun. Sebagai contoh, Alva tidak pernah memberikan sesuatu kepada putrinya secara gratis. Ketika Ewin minta untuk dibelikan boneka, Alva akan menanyakan tiga alasan mengapa dia harus membeli boneka itu. Kalau alasan yang disebutkan masuk akal, Alva akan membelikannya. Tetapi kalau tidak, Ewin harus melakukan banyak hal baik dulu untuk mendapatkan boneka itu. “Saya berusaha mengajarkan bahwa jika dia mendapatkan sesuatu, haruslah sesuatu yang istimewa, untuk alasan yang memang kuat, dan dia layak untuk mendapatkannya,” ungkapnya. Alva patut berbangga, karena cara mendidiknya terbukti berhasil. Ewin tumbuh menjadi anak yang mandiri, periang, berprestasi, dan bertanggung jawab. Di usianya yang menginjak 14 tahun sekarang, Ewin sudah fokus untuk meraih kehidupan yang dia inginkan, yaitu mendalami ilmu desain grafis demi merintis toko distro miliknya sendiri. Meski di waktu lain, Ewin juga pernah berceloteh tentang keinginannya mengikuti jejak sang bunda, menjadi psikolog. “Baru mendengar dia bilang begitu saja saya sudah senang,” ujar Alva sambil tersenyum. Doanya untuk sang buah hati sebenarnya sederhana, dia berharap Ewin dapat meraih cita-citanya, bukan hanya untuk mencukupi hidupnya, tetapi juga untuk memberi manfaat kepada orang lain. Sedikit banyak, cara mendidik Ewin sangat dipengaruhi oleh orangtuanya. Ayah Alva, Eppy Rivai Sapri, adalah seorang psikolog yang juga dosen senior Fakultas Psikologi Unpad. Sementara ibunya, Neni R.S. Jogapranata, merupakan mantan penyiar RRI Bandung. Maka bisa dibayangkan, Alva tumbuh dalam keluarga yang sangat kental dengan nilai-nilai pendidikan, tetapi moderat dan penuh kasih sayang. Dari ayahnya, Alva belajar tentang rasionalisme dan komitmen, sedangkan dari ibunya, dia belajar tentang kasih sayang dan ketulusan. Alva mengingat ayahnya sebagai orang yang selalu mendorong dirinya untuk mandiri sejak kecil. Suatu ketika, saat Alva duduk di bangku SMP, dia menanyakan arti sebuah kata kepada sang ayah. Akan tetapi bukan jawaban yang dia dapat, melainkan buku kamus tebal di mana dia dapat menemukan jawaban yang dia cari. Tentu saja Alva kecil menggerutu. Dalam pikirannya, ayah sungguh tega karena tidak memberikan apa yang dibutuhkannya dengan mudah. “Tapi baru terasa manfaatnya sekarang. Saya relatif tidak ada hambatan kalau mesti menggunakan sumber dalam bahasa Inggris, atau ketika harus mencari bahan-bahan di internet. Saya juga jadi suka sekali dengan buku dan sekarang punya perpustakaan sendiri di rumah,” ucapnya sambil tersenyum. Alva kemudian tumbuh sebagai anak yang mandiri dan tidak pernah sepi dari prestasi. Peringkat 1 di kelas sepanjang bersekolah tidak pernah lepas dari tangannya. Tradisi ini berlanjut hingga Alva mendapat PMDK ke Fakultas Psikologi Unpad, dan mendapat beasiswa untuk S-1 dan S-2. “Untuk saya, ayah jadi idola. Dialah yang membuat saya memilih bidang psikologi, dan seperti ayah, saya juga sempat mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Psikologi Unisba selama hampir 8 tahun,” ujarnya. Mengajar ke polosok Selain membesarkan Ewin, Alva juga melanjutkan hidupnya dengan cara yang luar biasa. Dia mengajar ke pelosok sejak 2005. Mulai dari Ujung Sungai Apit di Kabupaten Siak sampai Kabupaten Belitung Timur (lokasi shooting film “Laskar Pelangi”), pernah dia datangi untuk mengajar guru dan siswa. Kepuasan saat melihat antusiasme belajar guru-guru dan siswa di pelosok, serta perubahan yang ditunjukkan mereka setelah itu, membuatnya selalu ingin kembali. Mantan Kepala Sekolah TK-SD 9 Mutiara Bandung ini pernah menghabiskan 3 minggu untuk mengajar di Ujung Sampit Kab. Siak, yang dia singkat menjadi USA. Untuk mencapai tempat itu, Alva beserta tim harus menempuh 8 jam perjalanan dari Pekanbaru. Di sana, listrik hanya mengalir pada pukul 17.00 sampai dengan 7.00 WIB. Selebihnya, jangan harap ada energi listrik yang mampir. Selain itu, Alva harus menikmati air yang tersedia di sana, air payau yang asin dan berwarna kecokelatan. Selama tiga minggu mengajar, Alva hanya mendapat libur satu hari saja. Kebetulan pada bulan itu, dia berulang tahun. Maka Alva memilih libur pada hari ulang tahunnya. Namun apa daya, banyak guru TK yang protes karena tidak kebagian dilatih olehnya. Maka Alva pun merelakan hari liburnya dan tetap mengajar guru-guru TK itu. Tetapi betapa terharunya dia, ketika di tengah-tengah pelatihan seorang guru datang membawa kue ulang tahun, diiringi lagu selamat ulang tahun yang serentak dinyanyikan guru-guru se-kecamatan. “Bahkan ada guru yang saat pelatihan sedang hamil, ketika melahirkan anak perempuan, dia SMS saya untuk memberi tahu bahwa anaknya diberi nama Alva, seperti nama saya. Sungguh, rasa bahagianya tidak tergambarkan,” katanya. Dengan dedikasi seperti itu, tidak heran jika banyak sudah prestasi di bidang pendidikan yang diukir Alva. Beberapa di antaranya adalah juara 1 Penulisan Makalah Ilmiah Antar-Dosen di Unisba, The Best Ten makalah dan presentasi di Konferensi Guru Indonesia Sampoerna Foundation 2007, menerima penghargaan “The Most Effective Talk Award” dan “Human Relation Award” dalam program The Self Improvement Program yang diselenggarakan oleh PT Bina Potensia Indonesia & HD Consult . Tinggal satu cita-cita yang ingin diwujudkan Alva di masa depan. “Saya ingin punya rumah di kampung, yang sekaligus jadi community learning center, di mana semua orang mulai dari guru, orang tua, anak-anak, remaja, bisa belajar di situ,” Alva berharap. Semoga. (Lia Marlia)***

Sumber : pikiran-rakyat.com

Advertisements

Read Full Post »

ALVA Handayani, wanita muda psikolog yang aktif sebagai kepala sekolah di mana di dalamnya menyatukan anak penderita autisme dengan anak lainnya. Selain mengasuh berbagai rubrik psikologi, ia juga tercatat sebagai pimpinan di lembaga konsultan manajemen dan SDM

MENGELOLA sekolah sendiri adalah salah satu impiannya. Oleh karena itu, tawaran untuk mengepalai sebuah sekolah dasar langsung disambutnya dengan gembira. Alva kini lebih peduli terhadap dunia anak. Kini ia bersama 6 orang guru yang mengajar sehari-hari, mengasuh 11 orang siswa dengan 2 anak autisme. SD 9 Mutiara yang memberi fasilitas bagi anak-anak special needs, terutama untuk masalah autisme.

“Saya punya konsep untuk mengembangkan sebuah lembaga pendidikan bagi anak dengan pendekatan ilmu psikologi. SD 9 Mutiara yang saya pimpin menggunakan metoda active learning di mana anak diberikan kesempatan untuk menjalani pendidikan dua arah antar pengajar dan siswa yang lebih aktif,” kata Alva.

Active learning ini diciptakan untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan, memfasilitasi berbagai eksplorasi, dan menunjang perolehan life skill, serta perkembangan sosial dan emosional anak. Jadi, tidak hanya melulu kemampuan akademis.

Aktivitasnya mengelola sekolah dan kegiatan lain yang banyak itu sebenarnya bermuara pada upayanya untuk mendalami psikologi anak dan remaja. Ini sesuai bidang kajian utama yang diambilnya di program Pascasarjana Unpad, psikologi perkembangan.

Di Openmind, sebuah lembaga konsultan manajemen dan SDM, ia lebih banyak mengembangkan program-program di bawah Divisi Edukasi dan Perkembangan Anak. Saat ini, ia juga dipercaya sebagai tim ahli di Super Kids Camp bersama Andi Yudha GMa DAR! Mizan.

“Saya merasa beruntung dapat bekerja sama dengan Mizan dan dapat berbagi dengan orang banyak melalui seminar/ talk show yang disponsorinya, baik on air maupun off air. Saya pernah 3 kali membahas buku terbitan Kaifa di ANTV. Kemudian buku-buku Kaifa for Teens di Radio Ninetyniners, dan berbicara di pameran buku di Jakarta Convention Center mengupas buku Sheila, September yang baru lalu,” tambahnya.

**

ALVA Handayani, lahir di Bandung 12 Desember 1969. Anak pertama dari pasangan Eppy Rivai Sapri (dosen Fakultas Psikologi dan Magister Psikologi Unpad serta dosen Fakultas Psikologi dan Program Profesi Psikologi Unisba dan Neni R.S. Jogapranata (mantan penyiar RRI Bandung). Ia sempat merasa terbebani karena menjadi anak dosen, seolah orang menuntut dia harus pintar. Untungnya, ilmu yang dipelajari banyak membantu mengatasi perlakuan sosial dan pembentukan pribadinya. Ia pun akhirnya lulus tercepat di angkatannya,
dan masuk 5 besar IPK tertinggi.

Memang Alva memiliki catatan prestasi yang baik sejak SD. Lulus dari SMUN 1 Bandung saja Alva langsung masuk Fakultas Psikologi Unpad lewat jalur PMDK dan mendapat beasiswa.

Ketika lulus SMU, awalnya punya cita-cita masuk seni rupa. Namun, karena sering “nguping” sang ayah berdiskusi dengan mahasiswanya tentang kasus-kasus psikologi, ia mulai tertarik dengan dunia yang akrab dengan keseharian di rumahnya itu.

Semasa kuliah Alva mengaku pendiam dan kuper (kurang pergaulan). Bahkan, sempat diolok teman waktu mengungkapkan keinginan untuk menjadi dosen. “Memang bisa ngomong? Jangan-jangan kalau sudah sampai depan kelas, kamu suruh orang lain yang ngomong,” tuturnya mengenang.

“Niatan jadi dosen dan terlibat di dunia pendidikan didorong oleh keinginan saya untuk dapat terus mengikuti perkembangan ilmu psikologi. Selain itu, saya lebih suka suasana kerja yang dinamis, di samping mengamalkannya kepada mahasiswa di kampus. Mudah-mudahan jadi ilmu yang bermanfaat buat orang lain,” ungkapnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan keinginannya yang tak hanya berhenti hanya mengajar di lingkungan akademis. Dengan modal bapak seorang psikolog dan ibu seorang penyiar, ia mulai berpikir untuk menjadi psikolog yang penyiar. Keinginan ini tercapai saat tahun 1998 ditawari untuk mengisi acara konsultasi “Psikologi Anak” di radio Mustika FM selama lebih dari 2 tahun.
Pengalaman siaran di radio menjadi narasumber acara konsultasi ini membuatnya mulai dikenal orang, dan banyak yang meminta untuk menjadi pembicara seminar. Tidak tanggung-tanggung, seminar pertamanya waktu itu langsung disandingkan dengan Kak Seto.

Lepas dari Radio Mustika FM, ia sempat mengasuh acara “Female in Love” selama hampir satu tahun di beberapa radio.

Pengalaman di dunia psikologi entertain tak ingin dinikmatinya sendiri, ia pun mencoba menularkannya pada rekan-rekannya seprofesi. Pernah juga ia mencoba memotori dosen lain untuk mengisi acara konsultasi psikologi di RRI Bandung, tetapi hanya berjalan dua bulan. Sebenarnya Alva punya banyak niatan dan gagasan untuk memajukan Fakultas Psikologi dan Unisba, walaupun ia termasuk dosen muda karena baru mulai mengajar di Fakultas
Psikologi Unisba sejak 1995.

Lewat nama Openmind, pernah juga mengajukan konsep E-cruitmen Center bagi para lulusan Unisba, untuk melengkapi program Pesantren Sarjana yang telah ada selama ini. E-cruitmen Center merupakan program berbasis E-commers untuk memuat data base alumni Unisba yang dapat dimanfaatkan sebagai program Fresh Graduate Recruiter pada saat perusahaan-perusahaan mencari kandidatnya dari kalangan kampus. Program ini juga membekali para wisudawan dengan macam-macam program training dalam upaya meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan agar dapat berhasil di dunia kerja, yang langsung diberikan oleh kalangan profesional dan bisnis. “Saat itu, pembahasan konsep sudah sampai kepada Pembantu Rektor IV, namun terkena kendala di sistem yang berlaku di Unisba sehingga tidak bisa terealisasi.”

Sementara itu, pengalaman profesionalnya di bidang manajemen dan SDM juga terbilang cukup banyak. Di antaranya tercatat sebagai konsultan lepas di beberapa lembaga dan biro psikologi seperti BPIP Universitas Padjadjaran, Pro-gnosis, PT Bina Potensia Indonesia dan PT Mulia Mandiri. Ia juga termasuk salah satu psikolog yang mendapat sertifikasi dari The
International Consulting Group dari England untuk kualifikasi sebagai Assessor untuk Program Management Skills Assessment tersebut memberi banyak manfaat belajar baginya.

“Saya banyak belajar mengenai leadership dan manajemen langsung dari mereka yang terlibat di lapangan, mulai dari level middle manager hingga CEO di BUMN maupun perusahaan swasta nasional. Mereka sungguh merupakan orang-orang hebat, yang mampu membawa perusahaannya ke arah kesuksesan,” kata Alva.

Bekal pengalaman tersebut dimantapkan lagi dengan mengelola Openmind, sebuah lembaga Konsultan Manajemen & SDM, yang dipimpinnya sejak tahun 2000.

**

DIBESARKAN dalam keluarga kecil, dua bersaudara, Alva banyak meniru ataupun mengidentifikasikan diri pada sang ayah, terutama dalam hal achievement motive, kemandirian dan dorongan untuk aktualisasi diri.

Ia mengaku dari kecil dirinya agak tomboy dan keras kepala. Namun di balik itu prestasinya sudah terlihat. “Gaji pertama diperoleh sewaktu masih duduk di kelas 2 SD, dari honor yang didapat dengan mengirimkan gambar ke “PR” Kecil & majalah Bobo. Lalu mulai mengarang sejak SMP (juga dimuat di “PR”), sempat ikut sandiwara radio waktu SMA, dan tambahan uang saku dari beasiswa yang diperolehnya sejak di S1. Dari situ, terbiasa untuk mengalokasikan bujet khusus tiap bulannya untuk beli buku-buku baru.”

Kehidupan pernikahannya tidak telalu lama karena sang suami meninggal dunia. “Suami saya kehilangan kaki kiri di atas lutut karena kanker”. Tetapi, kanker itu tetap mejalar sampai paru-paru dan dalam hitungan bulan pernikahannya ia harus rela kehilangan belahan jiwanya, dan saat itu Alva sedang mengandung empat bulan.

“Almarhum adalah seorang suami dan ayah yang luar biasa. Kenangan saya melulu hanya berisi hal yang baik tentang dia. Saya banyak belajar tentang hidup, tentang kekuatan dan ketabahan justru dari suami saya, pada saat dia menghadapi saat-saat terakhirnya.”

“Mukjizat itu ada pada anak saya. Saya namakan Edwina, artinya sahabat yang paling berharga. Dia tumbuh jadi seorang anak yang cerdas, supel, ‘dewasa’ dalam usianya yang masih 9 tahun, namun tetap seorang anak kecil yang periang. Cita-citanya ingin menjadi pelukis”.

Ia menjadi single parent, merawat anak dalam 4 tahun pertama. Setelah itu, menikah lagi tahun 1998. “Orang bilang saya tegar, dan taft. Tetapi, saya tetap perempuan. Saya sangat sedih ketika menyadari saya tidak mampu memperbaiki kehidupan perkawinan kedua yang telah berjalan hampir 5 tahun. Proses berpikir yang dilalui juga cukup panjang karena tidak ingin salah dalam mengambil keputusan. Saya banyak melakukan konsultasi dengan orang yang dianggap lebih paham tentang hal ini dan salat tahajud. Tetapi, mungkin ini yang ‘terbaik’ di antara yang terburuk”.

Akhirnya, gugatan cerainya dikabulkan pengadilan agama kota Bandung akhir bulan Mei 2003 dan ia kembali sebagai single parent. “Peristiwa ini justru membuat ikatan saya dengan anak menjadi semakin kuat.Saya sering mengajak anak ke tempat kerja. Jadi, dia tahu seluk beluk pekerjaan saya. Kadang dia suka protes karena saya terlalu sibuk. Saya jadi merasa diingatkan dan berusaha untuk lebih pintar lagi mengatur waktu sebagai ibu, sebagai pribadi, dan sebagai profesional,” kata Alva.

Uniknya, imbuh Alva, proses perceraian hampir bersamaan dengan ia menjadi kepala sekolah, mengundurkan diri dari Unisba, dan tawaran job serta seminar cukup padat. Walaupun terasa berat, berusaha untuk tetap bersikap profesional dalam bekerja. “Fokus saya saat itu terutama tertuju pada penyelesaian masalah rumah tangga, anak dan pekerjaan. Karena beban begitu
besar yang harus dijalani sendiri, keinginan untuk menyelesaikan studi S-2, yang tinggal penyusunan tesis terpaksa menjadi prioritas ke sekian waktu itu, sampai batas waktu studinya sendiri habis. IPK terakhir di S-2 adalah 3,87. Sayang memang. Tetapi, saya hanya manusia biasa. Tidak bisa membuat segalanya menjadi sempurna,” tuturnya.

Jalu

sumber : pikiran-rakyat.com

Read Full Post »

Hello world!

Selamat datang di blog ini..

Saya senang sekali karena akhirnya saya bisa luangkan waktu untuk menuliskan hal-hal yang ingin saya bagi pada teman-teman. Mudah-mudahan apa yang saya muat di sini dapat menjadi inspirasi ..

Read Full Post »